Teknik Menembus Narasumber

Pada kesempatan kali ini artikel blog akan memmberikan materi seputar Teknik Menembus Narasumber. Langsung saja simak penjelasannya.

Nah, kenapa ini penting, karena ada beberapa masukan bahwa banyak para wartawan pemula kesulitan nembus narasumber buat wawancara. Tenang, gak usah khawatir. kita juga pernah gitu kok. Namanya juga pengalaman meliput pasti ada suka dan dukanya.

Tapi seiring kita menceburkan diri dalam liputan, kita terus belajar. Sekarang, kita ingin berbagi tips dengan teman2 untuk bisa nembus nara sumber.

Teknik Menembus Narasumber
Teknik Menembus Narasumber. (sumber: rmjm.com)
Nah, cara kita untuk bisa wawancara narsum itu ada cara  manual dan ada cara yang butuh perjuangan. Kalau yang gampang biasanya narsumnya udah kenal sama kita. Bahkan gak kita minta pun mereka pasti ngomong :D

Kalau cara yang manual biasanya mudah. Bisa dengan doorstop. Artinya, jegat ketika dia dalam waktu luang dalam suatu acara. Ataupun wawancara by phone.

Nah, cara kita untuk bisa wawancara narsum itu ada cara  manual dan ada cara yang butuh perjuangan. Kalau yang gampang biasanya narsumnya udah kenal sama kita. Bahkan gak kita minta pun mereka pasti ngomong :D

Kalau cara yang manual biasanya mudah. Bisa dengan doorstop. Artinya, jegat ketika dia dalam waktu luang dalam suatu acara. Ataupun wawancara by phone.

Biasanya yang sulit itu jika narasumber yang masih asing dengan kita ataupun yang waktunya sibuk bukan main. Di sinilah, mental wartawan diuji. Apakah dia berhasil atau tidak ‘menaklukan’ narasumber. kita melihat kriteria wartawan bermental mujahid dari sini. Kalau mentalnya gak kuat, dia gak cocok jadi wartawan. Sedikit-sedikit udah nyerah.

Perjuangan dalam mewawancara narsum pernah kita rasakan saat melakukan interview dengan jubir lembaga anti korupsi yang kesohor di negeri ini. kita katakan, mau wawancara perkembangan kasus Ahok. kita langsung mengontak beliau untuk menindaklanjuti rencana ini. Maklum kasus Ahok sampai sekarang mangkrak. Masyarakat menunggu perkembangannya.

Saat kita telepon, beliau sedang sibuk. Beliau akhirnya minta materi pertanyaan kita kirim ke Whatsapp. Tapi apa hasilnya saat kita hubungi? Sampai tiga hari pertanyaan kita tak kunjung dijawab. Akhirnya kita buka hape dan coba menghubunginya. Namun, berkali-kali kita telepon, berkali-kali pula tak ada jawaban.

Akhirnya kita datangi saja langsung kantor beliau. kita temui staffnya dan kita katakan ingin wawancara yang bersangkutan.  Hmm apa hasilnya? Staff beliau berkata sang narasumber sedang ada rapat. “Kapan selesainya? Tanya kita. “Wah lama, mas,” jawabnya.

Saat kita telepon, beliau sedang sibuk. Beliau akhirnya minta materi pertanyaan kita kirim ke Whatsapp. Tapi apa hasilnya saat kita hubungi? Sampai tiga hari pertanyaan kita tak kunjung dijawab. Akhirnya kita buka hape dan coba menghubunginya. Namun, berkali-kali kita telepon, berkali-kali pula tak ada jawaban.

Akhirnya kita datangi saja langsung kantor beliau. kita temui staffnya dan kita katakan ingin wawancara yang bersangkutan.  Hmm apa hasilnya? Staff beliau berkata sang narasumber sedang ada rapat. “Kapan selesainya? Tanya kita. “Wah lama, mas,” jawabnya.

Saat kita telepon, beliau sedang sibuk. Beliau akhirnya minta materi pertanyaan kita kirim ke Whatsapp. Tapi apa hasilnya saat kita hubungi? Sampai tiga hari pertanyaan kita tak kunjung dijawab. Akhirnya kita buka hape dan coba menghubunginya. Namun, berkali-kali kita telepon, berkali-kali pula tak ada jawaban.

Akhirnya kita datangi saja langsung kantor beliau. kita temui staffnya dan kita katakan ingin wawancara yang bersangkutan.  Hmm apa hasilnya? Staff beliau berkata sang narasumber sedang ada rapat. “Kapan selesainya? Tanya kita. “Wah lama, mas,” jawabnya.

Nah, masih ada lagi kisah selanjutnya. Ini saat kita wawancara tokoh Syiah, Abdullah Hassan, di Malaysia. Kejadiannya beberapa tahun lalu saat kita berkunjung ke Kuala Lumpur. Waktu itu kita dan teman-teman di Malaysia memang penasaran bagaimana gerakan Syiah di Malaysia. Menurut, Teman-teman di Malaysia, gerakan Syiah di sana tiarap karena dilarang Pemerintah Malaysia.

Namun diam-diam, mereka tetap melakukan kegiatan. Secara sembunyi-sembunyi. Nah ini menarik menurut kita. Akhirnya kami berangkat ke lokasi. Dengan bertanya kepada sejumlah warga, akhirna kami tiba di lokasi

Dan apa yang terjadi? Mobil kami tiba persis di depan garasi mbilnya, yang baru saja hendak keluar. Mau ga mau dia akhirnya tertahan di mobilnya.

Akhirnya kita turun, untuk menemui Pak cik Abdullah. Respon beliau sangat mengejutkan bagi kita. “kita tidak mau diwawancara.” Hihihi. Geleger. Akhirnya, kita bilang, Pak Cik Media Malaysia beberapa waktu lalu bebas melakukan wawancara dengan tokoh Syiah dan Sunni di Indonesia. Tapi knapa kita ditolak wawancra. Bukankah Syiah punya slogan merajut “ukhuwah”?

Apa respon beliau? “Oke just ten minute,” ujarnya. Artinya kita hanya dikasih waktu wawancara 10 menit. Dikit banget kan. Jauh2 dari Indonesia gitu. Hehe. Tapi, jangan ditolak. Ambil kesempatan ini. Ini kesempatan langka. Gak usah protes kenapa Cuma 10 menit. Bahasa Betawi-nya iyain aja, karena di dalam kita yakin wawancara pasti akan berkembang panjang. Dan benar saja, kita akhirnya berhasil wawancara sampai 50 menitan. Bahkan kita diajak keliling2 ke tempat ibadahnya, melihat buku-bukunya dll. Wah.

Jadi jangan pernah menyerah memburu narasumber. Ambil kesempatan dalam kesempitan.

Kepiawaian kita membujuk narasumber akan terlatih seiring waktu dan perjuangan. Jadi, jangan takut.

Afwan ada ralat: Ada beberapa nomor yang double di atas. Ralatnya di bawah ya:

Akhirnya kita datangi saja langsung kantor beliau. kita temui staffnya dan kita katakan ingin wawancara yang bersangkutan.  Hmm apa hasilnya? Staff beliau berkata sang narasumber sedang ada rapat. “Kapan selesainya? Tanya kita. “Wah lama, mas,” jawabnya.

kitang jika kita sudah sampai sini, tapi pulang tak bawa apa-apa. kita buka hape dan kembali mengirim pesan kepadanya bahwa kita sudah ada di kantornya.

Apa yang terjadi? Alhamdulillah dijawab. Gak percuma perjuangan kita. Beliau mengatakan mohon maaf belum bisa ditemui. Namun beliau bilang, siapa diwawancara via whatsapp. Tak mengapa menurut kita. Akhirnya kita ajukan sejumlah pertaanyaan. Dialog akhirnya berlangsung disitu. Semua pertanyaan, alhamdulillah dijawab.

Kuncinya apa sih? Sabar dan jangan menyerah. Ada pepatah dalam jurnalistik, wartawan pantang ditolak narasumber. Atau pantang pulang tanpa bawa berita.

Jadi jangan menyerah, coba, coba, coba dan terus mencoba. Memang mnjadi wartawan itu harus muka tembok. Kita juga siapkan beberapa plan jika rencana pertama gagal.

Sekarang kita masuk ke materi selanjutnya. Mohon dicatat ya sobat: dalam menembus narasumber ada beberapa komponen yang musti kita perkuat. Apa aja itu? Mental, adab, keberanian, usaha, dan doa. Itu jangan dipisahkan.

Kenapa sih mental, karena bisa kita katakan modal utama wartawan itu di mental. Apa dia memiliki nyali untuk mengontak, janjian ketemuan, dan berhadapan dengan narasumber

Gak semua narasumber itu mau lho ditemuin. Alasannya sibuk, gak kenal media kita, gak yakin sama kita dll. Hehe ini biasanya untuk narasumber2 kelas nasional. Jadi kita harus bisa kasih keyakinan sama mereka

Makanya sebelum bertemu, yakinkan kita siapa, dari media mana, mau apa dll. Pas ketemu jangan lupa bawa kartu pers, sebagai penanda kita bener2 wartawan. Bukan wartawan bodong.

Jangan lupa juga adab kita perhatikan. Ngadepin narasumber jangan jutek2 amat. Kasih senyum. Tunjukkan kalau kita orang yang ramah. Kalau dia muslim, jangan lupa ucapkan salam dan jabat tangannya. "Assalamu'alaikum wr.wb pak, kita Dani dari wartawan Berkah.com, yang sebelumnya tadi buat janji sama bapak. Apa kabarnya pak? Semoga sehat selalu ya pak."

Kehangatan kita sama narasumber akan turut menentukan kesuksesan kita dalam melakukan wawancara. Ini dulu kita praktekan, saat mewawancara salah seorang tokoh LGBT. Yang jelas, pemikirannya pasti kontra dengan kita. Tapi tetap dia kita sapa dengan ramah. kita tanya bagaimana kabarnya, kita ucapkan semoga sehat dll.

Dengan begitu dia merasa nyaman, walaupun kita dari media Islam, dia yakin kalau kita datang dengan itikad baik, walau pemikiran kita berbeda. Tapi kita tetap profesional. Kita beradu wacana dalam penulisan, secara elegan

Perhatikan juga penampilan kita. Jadi wartawan jangan lusuh-lusuh amat. Walaupun memang sebagian wartawan itu lusuh sih. Ya, wajar. Bayangkan wartawan harus menempuh perjalanan panjang untuk bertemu narasumber dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi tetap ketika bertemu narasumber untuk wawancara, kita mesti perhatikan penampilan kita. Yang rapih, pakai sepatu. haha, ini motivasi juga bagi kita yang masih suka meliput pakai sendal. Tapi itu kalau sifatnya seminar dan liputan demo aja sih. Kalau ketemu langsung narasumber, kita pakai sepatu

Nah ini ada cerita. Salah satu tokoh muda Muhammadiyah bilang begini. "Piz, teman2 wartawan kalau datang ke Muhammadiyah, rapih dikit ya." hoho. "Itu," katanya, "Seperti wartawan-wartawan media anu."

Nah, jadi penampilan itu sangat diperhatikan juga sama narasumber. So, jangan anggap sepele ini.

Selain itu, salah satu teknik bisa menembus narasumber adalah keberanian. Tanpa keberanian, biasanya upaya mewawancara narasumber yang penting, tidak bisa terlaksana.

Alasannya, macam-macam. Bisa takut, demam panggung, gak terbiasa, takut disalahkan, dll.

Cuek aja. Inget gak ada orang yang sukses tanpa proses. Jam terbang ketemu orang itu akan membuat skill kita terasah dengan baik. Jadi, pahami bahwa ini bagian dari perjuangan untuk membentuk kualitas diri kita yang lebih baik lagi

Makanya itu sebelum ketemu narasumber, susun dulu butir2 pertanyaan yang akan kita ajukan. Mau tema apa yang akan kita tanyakan. Dari tema itu, apa2 saja yang mau kita dalami. Berapa butir pertanyaan yang kita ajukan. Sedikit banyak, itu sudah ada di otak kita. Jadi, ketika ketemu narasumber kita gak grogi dan tegang

Jadi be relax, anggap ini jalan yang harus kita lalui untuk menapaki jenjang kesuksesan

Semua wartawan senior sekarang juga dulunya memulai seperti kita. Ada yang ditolak narasumber, diusir narasumber, dikritik redakturnya. Dulu lebih keras lagi, sobat. Cos belom ada email, internet, hand phone dll. Nulis wawancara harus ditulis pakai mesin tik. Untuk janjian dengan narasumber, harus pakai telepon koin. Toh, mereka sukses menjalankannya. Jadi selama ada niat, di situ ada jalan

Ingat ya, dengan ikhtiar dan doa, insya Allah kita pasti bisa

Nah kisah keberanian ini pernah kita rasakan ketika meliput bentrokan para preman Kendal dengan FPI, empat tahun lalu. Waktu itu, kita terjun untuk meliput dan menginvetigasi kejadian ini

Ihwal bentrok ini dimulai dari protes masyarakat Kendal atas beroperasinya lokalisasi Alaska (Alas Karet) di Sukorejo, Kendal.

Untuk mendalami peristiwa ini, kita akhirnya memantau ke dalam. Sekaligus memastikan apakah benar lokalisasi ini tutup sebagaimana penuturan para mucikari dan preman yang membekinginya

Akhirnya bersama seorang warga, kita masuk ke dalam dan memenmui mucikarinya. Waktu itu sedang bulan puasa. kita berhasil menemui sang mucikari. Pertemuan ini membutuhkan nyali besar bagi kita

Pertama, kita hadir sebagai seorang jurnalis dari media Islam. Sementara citra media Islam, bagi mucikari dan preman, sudah jelek, karena kita jelas-jelas berpihak kepada aspirasi umat Islam dan masyarakat pada umumnya

Ketika kita melakukan wawancara, para preman satu persatu menghampiri kita. Mereka ikut berdiri di samping kita, yang tengah melakukan wawancara.

Satu orang datang, lalu disusul para preman lainnya. Hingga mereka berdiri mengitari kita. Sebagian lainnya, duduk berjaga-jaga di luar dengan menghembuskan asap rokok

Suasana saat itu menegangkan bagi kita. Ya, kita datang sebagai jurnalis yang ingin mengorek lebih jauh praktek prostitusi ini yang tetap berlangsung di bulan puasa

Akhirnya walau sang mucikari berkilah, mereka taat aturan dengan tidak buka di bulan suci, tetap saja kita liat satu-dua pelanggan diam-diam masuk ke lokalisasi

Fakta-fakta ini penting kita tulis untuk menunjukkan bahwa komitmen dari sang mucikari ternyata hanya isapan jempol belaka. Ini rupanya yang membuat masyarakat Kendal marah

Tapi hal yang ingin kita katakan adalah bagaimana mental kita dalam menghadapi liputan2 seperti ini diuji. Apakah Psy war dari para preman itu bisa menaklukan kita, ataukah kita bisa lulus dari situasi ini, itu semua bergantung seberapa kuat mental dan nyali kita

Maka itu kita sepakat ucapan seorang jurnalis senior bahwa menjadi wartawan itu ibadah. Jika dia ibadah, maka kita harus awali dengan doa dan selalu meminta petunjuk dari Allah

Ujian ternyata belum selesai di sini. kita juga harus menemui para preman Ronggolawe yang ditengarai terlibat dalam tindakan kekerasan kepada warga

Awalnya, ada warga yang menolak niat kita. Namun, sebagai wartawan kita harus berupaya melakukan cover both side ke mereka.

Dengan  niat mencari perimbangan berita, kita akhirnya berangkat menemui mereka. Melalui jalan di gang-gang wilayah Sukorejo, kita akhirnya tiba di rumah salah satu petinggi mereka

Tapi apa yang terjadi? Melihat kedatangan kita, ia menolak diwawancara

Di sinilah, mental kita diuji. Pilihan pulang, dan berkata "Terimakasih", bisa saja kita ambil. Pulang tanpa berita adalah pilihan yang paling sederhana, saat itu.

Tapi kita urung melakukan itu. kita sudah sejauh ini meneliti kasus bentrokan Kendal, alangkah kitangnya jika tidak mengutip pernyataan dari para preman. Apalagi saat itu umat Islam menuding, para preman Ronggolawe lah yang memicu tindak kekerasan kepada warga

Akhirnya kita bilang begini, kepada sang preman. "Ya sudah jika Anda tidak mau wawancara, padahal kita niat datang ke sini, justru ingin memberikan jawab kepada Anda."

Jadi kalau Anda tidak mau, jangan salahkan kita hanya nulis dari versi rekan-rekan FPI

Apa yang terjadi? dia akhirnya berpikir ulang. "15 menit saja," katanya

Ini rumus yang kita pelajari kemarin, jika narsum sudah mau diwawancara meskipun dengan waktu singkat, iyakan saja. Gak usah ditolak. Karena pada akhirnya banyak wawancara dilakukan melebihi batas waktu yang dia inginkan

Di sinilah, kepandaian dan kematangan seorang wartawan diuji

Saat itu, dia mau diwawancara dengan syarat nama disamarkan, dan wajah tidak boleh difoto. "Karena ini bahaya bagi kita," katanya. Yo wes. Ora opo-opo mas.

Dia akhirnya mengakui pelaku penyerangan FPI adalah para preman Ronggolawe, bukan warga. Ronggolawe merasa terusik karena FPI hendak menutup bisnis judi togel di Sukorejo. Padahal judi togel adalah lahan pencarian Ronggolawe selama ini. Maka Ronggolawe melakukan provokasi dengan mengumpulkan massa preman untuk menyerang FPI.

 “Mereka semua adalah ronggolawe. Ronggolawe yang menyerang FPI bukan warga,” tegasnya.

Nah kasus ini, akhirnya terkuak bahwa sejatinya pelaku penyerangan FPI bukanlah warga, tapi preman. Sebab, kabar yang beredar saat itu kehadiran FPI ditolak warga karena menolak kehadiran tempat prostitusi dan melawan togel.

Kalau kita pulang saat sang preman menolak diwawancara, mungkin kita tidak bisa mendapai fakta2 ini

Nah, sekian dulu ya materi kali ini. Semoga kisah-kisah di atas beserta pengalamannya bisa menjadi ibrah bagi kita untuk dapat menembus narasumber, betapa berat perjuangannya

Ingat, mental, keberanian, usaha dan doa adalah bagian dari upaya kita untuk dapat sukses menaklukan narasumber

Itu saja dari kita tentang Teknik Menembus Narasumber, semoga bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Teknik Menembus Narasumber"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Silahkan memberi Komentar, Kritik, dan Saran terkait postingan.
Jangan lupa dibagikan jika postingan ini bermanfaat.

Catatan:
1. Komentar dimoderasi dan tidak semuanya dipublikasi.
2. Komentar yang tidak relevan dan/atau terdapat link tidak akan dipublikasikan.
3. Centang kotak Notify me untuk mendapatkan notifikasi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel